Header Ads

Rahmatan Lil Alamin, Semakna Hamemayu Hayuning Bawana dalam Lidah Jawa

Dr. Budya Pradipta pernah menulis buku berjudul Memayu Hayuning Bawana yang isinya pernah disampaikan dalam forum Global Summit (Pertemuan Puncak Dunia) sebagai Agenda for Action bagi United Religions Inisiative.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kata memayu berasal dari kata hayu yang berarti cantik (ayu), indah atau selamat. Setelah mendapat awalan ma, maka berubah menjadi mamayu yang artinya mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Dalam keseharian, kata mamayu inilah yang seringkali diucapkan sebagai memayu.

[caption id="attachment_1459" align="alignnone" width="600"] Sumber: Muslim.or.id[/caption]

Sedangkan kata hayuning, berasal dari kata dasar hayu yang mendapatkan kata ganti kepunyaan ning, serupa nya dalam Bahasa Indonesia sehingga kemudian berarti cantiknya, indahnya, selamatnya atau keselamatannya.

Maka memayu hayuning, dengan demikian dapat diartikan atau diterjemahkan bebas sebagai mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kata Bawana (dibaca Bawono) berarti dunia, tapi bukan hanya dunia dalam pengertian lahir, melainkan juga dalam pengertian dunia batin, jiwa atau rohani. Karena untuk pengertian lahiriah, ragawi, atau jasmaniah untuk dunia, dalam Bahasa Jawa dipergunakan kata buwono mengacu pada dunia dalam arti fisik.

Lebih jauh, Bawono dalam falsafah Jawa memiliki tiga macam arti dan makna sesuai tingkatannya.

Pertama, Bawono Alit atau Dunia Kecil, yang bermakna individu, pribadi dan keluarga.

Kedua, Bawono Agung atau Dunia Besar, yang berarti masyarakat, bangsa, negara dan dunia international atau global.

Ketiga, Bawono Langgeng atau Dunia Abadi yang tak lain adalah alam akhirat.

Maka dengan demikian, Memayu Hayuning Bawono dapat diartikan sebagai mengusahakan atau mengupayakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteran hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Itulah tugas utama manusia Muslim Jawa yang dengan meneguhi prinsip Rahmatan lil ’Alamin mesti menjadi rahmat bagi semesta, karena leluhur kita pun sudah meyakini bahwa segenap tubuh kita, baik jasmani maupun rohani, raga dan jiwa saling berhubungan dan berkaitan secara seimbang dengan energi alam semesta. Membawa energi hawa dengan nafsu yang ada di jiwa kita, dan keduanya diyakini tak dapat dipisahkan selama kita masih hidup di dunia.

Inilah falsafah Jawa yang tak lekang oleh waktu, bisa ditempatkan di segala zaman, dan oleh sebagian orang disebut sebagai “sustainable development”, sebagai keselarasan Vertikal dan Horizontal yang tak terputus.

Maksudnya, inilah falsafah hidup yang secara Vertikal mengatur tata hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sedangkan secara Horizontal, mengatur tata hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam tempatnya hidup, serta hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lain, di antaranya hewan dan tumbuhan.

Tata hubungan inilah yang oleh leluhur kita juga disebut sebagai ajaran Tri Satya Brata, atau Tiga Ikrar Kesetiaan Pengendalian Diri.

Pertama, Rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa, yang berarti bahwa kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa.

Kedua, Darmaning manungsa mahanani rahayuning negara, yang berarti bahwa
tugas hidup manusia adalah menjaga keselamatan negara.

Ketiga, Rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane, yang berarti bahwa
keselamatan manusia itu tergantung pada kemanusiaannya sendiri.

Itulah makna dari Tiga Ikrar Kesetiaan Pengendalian Diri yang hendaknya menjadi pedoman hidup bagi kita agar tercipta keselarasan dunia dan alam semesta. Dengan pedoman itulah diharapkan agar semua penghuni dunia merasa aman, nyaman, damai, tenteram dan bahagia lahir-batin, sekaligus selamat dunia-akhirat.

EH/IslamIndonesia

No comments

Powered by Blogger.